Tuesday, 13 August 2013

Obat Tradisional untuk Penyakit Kambing


Ternak kambing atau domba merupakan ternak yang banyak dipelihara di pedesaan. Masalah yang sering dijumpai dan dirasakan oleh peternak adalah serangan penyakit yang sangat merugikan peternak karena dapat menghambat pertumbuhan, reproduksi, bahkan kematian ternak.



Bagi peternak kambing di pedesaan untuk mengobati ternak yang sakit sering mengalami kesulitan, karena keterbatasan persediaan obat ternak yang ada di toko obat ternak dan harga obat yang terlalu mahal, sehingga sulit terjangkau oleh peternak.

Untuk mengatasi hal tersebut, perlu pengobatan dengan cara lain yaitu dengan menggunakan obat tradisional kambing yang ada dan dapat dilakukan peternak serta harganya murah.
Namun demikian usaha pencegahan juga perlu dilakukan dengan menjaga kebersihan ternak dan lingkungannya, pemberian pakan yang cukup (kualitas dan kuantitas), bersih dan tidak beracun.

Ada beberapa  penyakit yang sering menyerang ternak kambing dan penyakit ini dapat diobati secara tradisional diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Scabies (Kudis)

Penyebab:

Parasit yang terdapat pada kotoran yang terjadi karena kandang kotor dan ternak tidak pernah dimandikan.

Tanda- tanda:


    Kerak – kerak pada permukaan kulit terutama kulit yang jarang bulunya
    Ternak selalu menggesekan bagian kulit yang terserang kudis
    Kerontokan bulu, kulit menjadi tebal dan kaku


Pengobatan :
  1. Dengan melaksanakan pencukuran bulu sekitar daerah terserang,
  2.  Mandikan ternak dengan sabun sampai bersih, kemudian jemur sampai kering.
  3.  Setelah kering dapat diobati dengan menggunakan:
a. Belerang dihaluskan, dicampur kunyit dan minyak kelapa, kemudian dipanaskan dan digosokkan          pada kulit yang sakit
b. Belerang dihaluskan dan dicampur dengan oli bekas dan digosok pada bagian kulit yang sakit.
c.  Kamper / kapur barus digerus, dicampur minyak kelapa dan dioleskan pada bagian kulit yang sakit.

Pencegahan:


    Ternak yang berpenyakit kudis tidak boleh bercampur dengan ternak yang sehat.
    Ternak yang baru dibeli harus bebas dari penyakit kudis
    Mandikan ternak dua minggu sekali.
    Bersihkan kandang seminggu sekali.


2. Belatungan ( Myasis )

Penyebab:

Luka daerah yang berdarah diinfeksi oleh lalat sehingga lalat berkembangbiak (bertelur) dan menghasilkan larva belatung.

Tanda-tanda:


     Adanya belatung yang bergerak-gerak pada bagian yang luka
     Bila belatungan pada kaki/teracak maka ternak terlihat pincang.


Pengobatan:


     Bersihkan luka dari belatung, kemudian obati dengan gerusan kapur barus atau tembakau.
     Luka dibungkus dengan kain/perban untuk melindungi dari terjadinya luka baru atau kotoran.
     Pada hari berikutnya luka dibersihkan, pengobatan diulang dan dibungkus kembali.
     Bila belatung sudah terbasmi, pemberian yodium tinctur dapat dipakai untuk    mempercepat   pertumbuhan


3. Cacingan

Penyebab:

Bermacam-macam cacing terjadi karena kandang yang kotor atau padang pengembalaan yang kotor.

Tanda-tanda:
- Kurus, bulu agak berdiri dan tidak mengkilap
- Sembelit atau mencret
- Lesu dan pucat
- Daerah rahang terlihat membengkak
- Mati mendadak

Pengobatan:


     Tepung buah pinang dicampur dengan nasi hangat dikepal-kepal kemudian dipaksakan untuk  dimakan ternak. Ternak dianjurkan untuk dipuasakan terlebih dahulu.
     Daun kelor yang tua dibakar, kemudian debunya dicampur air dan diminumkan. Pengobatan diulangi  satu minggu kemudian.


Pencegahan:

     Kandang dibuat panggung dan bersih
     Pengaritan rumput setelah panas yaitu pada jam 12.00-15.00 atau pengembalaan ternak pada siang  hari jam 10.00-15.00.
     Jangan menggembalakan ternak pada daerah rawa, sungai dan sawah.


4. Keracunan Tanaman

Penyebab:

Ternak memakan rumput-rumputan atau daun-daunan yang mengandung zat racun.

Tanda-tanda:


    Mati mendadak, mulut berbusa, kebiruan pada selaput lendir, pengelupasan kulit/eksim atau terjadi pendarahan.


Pengobatan:


     Cekoklah ternak dengan air kelapa muda.


Pencegahan:


    Tidak memberikan tanaman beracun atau menggembalakan ternak di daerah yang banyak tumbuh tanaman yang mengandung racun.

Sumber :epetani.deptan.go.id




No comments:

Post a Comment